bagaimana? sudah siap?, Tanya ayah pada simon saat sarapan pagi, “siap dong yah, tapi aku deg-degan juga” sahut simon dengan terus terang. Melihat simon yang agak gugup, mama pun mendekat. “tenang saja” kata mama. Lalu mengoleskan selai roti simon, kau pasti lupa saat pertandingan berlangsung dengan rasa gugupmu itu.
“aku gugup, Doni kan setiap tahun selalu merebut nomer satu, tiga tahun berturut-turut aku selalu kalah” keluh simon. “kau pasti bisa mon, aku yakin kalu kamu pasti bisa” ayah memberi semangat, simon menghabiskan roti selainya dan pamit pergi ke stadion. Nanti ayah akan datang menonton! Mon... jangan lupa tutup pintunya ya” seru ayah.
Simon selalu mundur beberapa langkah dan menutup pintu rumah, itu memang kebiasaan buruk simon selalu lupa menutup pintu rumah. Di lapangan, pak amir, guru olahraga simon sudah menunggu, simon melirik ke arah Doni yang sedang melakukan pemanasan bersama peserta lainnya. Peserta lomba lari 100 meter kali ini memang cukup banyak daripada tahun-tahun sebelumnya, tetapi hanya Donilah saingan terberat simon selama tiga tahun berturut-turut.
“tenang saja”, pak amir menepuk pundak simon, kamu kan rajin berlatih, bapak yakin kamu pasti bisa memenangkan pertandingan kali ini. Semoga saja begitu, pikir simon, sekali lagi simon melirik simon yang bertubuh tinggi dengan kaki yang panjang.
Sementara itu penonton mulai berdatangan, kebanyakan anak sekolah yang datang menonton teman-temannya bertanding. Pertandingan hari itu akan menentukan sekolah mana yang akan mewakili ke pertandingan tingkat provinsi.
Simon kaget, ketika seseorang memegang bahunya dari belakang. “kaget ya ?” kata ayah sambil tersenyum, “aku hanya ingin tahu bagaimana persiapanmu, apakah kamu perlu nasihat untuk menghilangkan rasa gugupmu ?”
Simon tersenyum, “terima kasih yah, simon bisa mengatasinya kok! ”. Ayah lalu kembali ke tribun penonton yang sudah penuh.
Semua peserta lomba kini sudah ditempat yang sudah ditentukan.
Peluit ditiup !!
Sesaat jantung simon berdetak kencang, ia menarik nafas panjang dan berusaha menenangkan dirinya.
“aku pasti bisa” katanya dalam hati, “aku pasti bisa”. sekali lagi peluit ditiup, simon beserta peserta lainnya berlutut. Beberapa detik kemudian peserta sudah berlari kencang. Kekuatan Simon dan Doni seimbang, jarak mereka pun sangat dekat. Simon menarik nafas lalu mengerahkan seluruh tenaganya dan melesat melewati Doni. Terus! Terus!
Penonton menunggu dengan tegang.
Garis finish sudah didepan mata, simon tersenyum, dan ia pun mulai berfikir “dimana Doni ?... apakah ia tertinggal jauh ?” . Simon penasaran dan menoleh kebelakang, saat itulah Doni melewatinya, dan kini Doni memimpin, Simon mulai panik! Dan ia pun mengerahkan seluruh tenaganya, tetapi baru saja ia mengeluarkan seluruh tenaganya penontong bersorak, Doni sudah mencapai garis finish. Simon menyusul hanya satu detik kemudian. Simon menjatuhkan diri di pinggir lapangan, air matanya mengalir disudut matanya”.
“Ayah kira kau akan memenangkan pertandingan” seru ayah sambil memberikan air minum mineral pada Simon.
“aku yang salah, aku tak bisa menahan kemauanku untuk menoleh kebelakang, akibatnya jadi agak lambat” cetus simon menyesal.
“makanya jangan selalu menoleh kebelakang, tutup pintu dimanapun kau berada” kata ayah. “Ah ayah, apa hubungannya menutup pintu dengan pertandingan ini?” keluh Simon kesal.
“maksud ayah, jangan selalu melihat kegagalan dimasa lalu agar tidak menganggu untuk kedepannya”. Simon berfikir dan membenarkan kata-kata ayahnya, dan ia berjanji pada dirinya untuk selalu menutup pintu kegagalan di belakangnya, agar bisa melangkah ke depan dengan mudah .





0 komentar:
Posting Komentar